about me ...

Sabtu, 22 Mei 2010

Antara ...

Baru
baru sebentar saja
Q tiada di sana

pi
Q tak gi ada
Q tak gi bisa
tak ada bayang Q dalam benak Xan

semudah itukah ..
secepat itukah ...

aq ...
ada tetapi entah mengapa
Xan tak ...
tak pernah melihat Q

andai Q tw..
smua kan jdi bgniiii
mungkin Q takkan kembaliii ....

pi
udah lahh..
tak mengapa ....

Bau Mulut







Bau mulut dapat terjadi secara permanen atau sementara. Gangguan ini memberikan dampak atau citra yang negatif bagi penderitanya. Apalagi jika bau mulut tersebut kronis atau dalam bahasa kedokteran disebut sebagai halitosis. Bau mulut biasanya disebabkan oleh pembusukan partikel makanan dan bakteri dalam mulut. Penyebab bau mulut antara lain gangguan perut, penyakit, mulut kering, rokok atau kopi dan alkohol, makanan beraroma, tonsilitis, atau karena bakteri di dalam mulut.


Gejala dan Tanda
Jenis bau mulut tergantung pada sumber atau penyebab.

Pengobatan
Berikut tips untuk mengatasi bau mulut:
1. sikat gigi setelah makan
Pastikan menyikat gigi dua kali sehari. Menyikat gigi dapat membersihkan sisa makanan dan bakteri yang menyebabkan mulut berbau.

2. menyikat lidah
Membersihkan lidah secara rutin dengan bulu sikat yang lembut dapat membersihkan bakteri dan sisa makanan penyebab bau mulut.

3. membersihkan gigi palsu
Bau mulut juga bisa disebabkan karena gigi palsu yang dipakai kotor. Setidaknya membersihkan gigi palsu sehari dua kali dapat mengurangi masalah bau mulut

4. minum air putih sebanyak mungkin
untuk menjaga mulut tetap basah dan menghilangkan parrtikel makanan dan bakteri, minum air putih sangat dianjurkan.

5. pemerikasaan gigi secara teratur
Gigi yang keropos dan tidak sehat juga bisa jadi sumber bau mulut. Memeriksanya secara rutin dianjurkan untuk mengurangi potensi bau mulut.

6. menghilangkan kebiasaan merokok dan minum alkohol
Kebiasaan merokok dan mengkonsumsi alkohol salah satu penyebab dari bau mulut. Meninggalkan kebiasaan itu selain menjaga bau mulut segar juga baik bagi kesehatan tubuh.

7. mengkonsumsi makanan berserat
Mengkonsumsi makanan berserat seperti sayur-sayuran dan buah-buahan segar serta menghindari makanan yang dapat menyebabkan bau mulut seperti bawang, petai, dan makanan yang manis dapat mencegah bau mulut. Makanan berserat juga berfungsi melancarkan saluran pencernaan. Gangguan pencernaan terkadang juga menjadi penyebab bau mulut tak sedap.

Sumber: www.detik.com

Komunikasi Massa

Komunikasi Massa adalah proses dimana organisasi media membuat dan menyebarkan pesan kepada khalayak banyak (publik).

Teori-Teori Komunikasi Massa
1. Teori Ketergantungan (Dependency Theory)
Teori ketergantungan terhadap media mula-mula diutarakan oleh Sandra Ball-Rokeach dan Melvin Defleur. Seperti teori uses and gratifications, pendekatan ini juga menolak asumsi kausal dari awal hipotesis penguatan. Untuk mengatasi kelemahan ini, pengarang ini mengambil suatu pendekatan sistem yang lebih jauh. Di dalam model mereka mereka mengusulkan suatu relasi yang bersifat integral antara pendengar, media. dan sistem sosial yang lebih besar.

Sejalan dengan apa yang dikatakan oleh teori uses and gratifications, teori ini memprediksikan bahwa khalayak tergantung kepada informasi yang berasal dari media massa dalam rangka memenuhi kebutuhan khalayak bersangkutan serta mencapai tujuan tertentu dari proses konsumsi media massa. Namun perlu digarisbawahi bahwa khalayak tidak memiliki ketergantungan yang sama terhadap semua media. Lalu apa yang sebenarnya melandasi ketergantungan khalayak terhadap media massa ?
Ada dua jawaban mengenai hal ini. Pertama, khalayak akan menjadi lebih tergantung terhadap media yang telah memenuhi berbagai kebutuhan khalayak bersangkutan dibanding pada media yang menyediakan hanya beberapa kebutuhan saja. Jika misalnya, Anda mengikuti perkembangan persaingan antara Manchester United, Arsenal dan Chelsea secara serius, Anda mungkin akan menjadi tergantung pada tayangan langsung Liga Inggris di TV 7. Sedangkan orang lain yang lebih tertarik Liga Spanyol dan tidak tertarik akan Liga Inggris mungkin akan tidak mengetahui bahwa situs TV 7 berkaitan Liga Inggris telah di up date, atau tidak melihat pemberitaan Liga Inggris di Harian Kompas.

Sumber ketergantungan yang kedua adalah kondisi sosial. Model ini menunjukkan sistem media dan institusi sosial itu saling berhubungan dengan khalayak dalam menciptakan kebutuhan dan minat. Pada gilirannya hal ini akan mempengaruhi khalayak untuk memilih berbagai media, sehingga bukan sumber media massa yang menciptakan ketergantungan, melainkan kondisi sosial.

Untuk mengukur efek yang ditimbulkan media massa terhadap khalayak, ada beberapa metode yang dapat digunakan, yaitu riset eksperimen, survey dan riset etnografi.

2. Uses, Gratifications and Depedency
Salah satu dari teori komunikasi massa yang populer dan serimg diguankan sebagai kerangka teori dalam mengkaji realitas komunikasi massa adalah uses and gratifications. Pendekatan uses and gratifications menekankan riset komunikasi massa pada konsumen pesan atau komunikasi dan tidak begitu memperhatikan mengenai pesannya. Kajian yang dilakukan dalam ranah uses and gratifications mencoba untuk menjawab pertanyan : “Mengapa orang menggunakan media dan apa yang mereka gunakan untuk media?” (McQuail, 2002 : 388). Di sini sikap dasarnya diringkas sebagai berikut :
Studi pengaruh yang klasik pada mulanya mempunyai anggapan bahwa konsumen media, bukannya pesan media, sebagai titik awal kajian dalam komunikasi massa. Dalam kajian ini yang diteliti adalah perilaku komunikasi khalayak dalam relasinya dengan pengalaman langsungnya dengan media massa. Khalayak diasumsikan sebagai bagian dari khalayak yang aktif dalam memanfaatkan muatan media, bukannya secara pasif saat mengkonsumsi media massa(Rubin dalam Littlejohn, 1996 : 345).
Di sini khalayak diasumsikan sebagai aktif dan diarahkan oleh tujuan. Anggota khalayak dianggap memiliki tanggung jawab sendiri dalam mengadakan pemilihan terhadap media massa untuk mengetahui kebutuhannya, memenuhi kebutuhannya dan bagaimana cara memenuhinya. Media massa dianggap sebagai hanya sebagai salah satu cara memenuhi kebutuhan individu dan individu boleh memenuhi kebutuhan mereka melalui media massa atau dengan suatu cara lain. Riset yang dilakukan dengan pendekatan ini pertama kali dilakukan pada tahun 1940-an oleh Paul Lazarfeld yang meneliti alasan masyarakat terhadap acara radio berupa opera sabun dan kuis serta alasan mereka membaca berita di surat kabar (McQuail, 2002 : 387). Kebanyakan perempuan yang mendengarkan opera sabun di radio beralasan bahwa dengan mendengarkan opera sabun mereka dapat memperoleh gambaran ibu rumah tangga dan istri yang ideal atau dengan mendengarkan opera sabun mereka merasa dapat melepas segala emosi yang mereka miliki. Sedangkan para pembaca surat kabar beralasan bahwa dengan membeca surat kabar mereka selain mendapat informasi yang berguna, mereka juga mendapatkan rasa aman, saling berbagai informasi dan rutinitas keseharian (McQuail, 2002 : 387).
Riset yang lebih mutakhir dilakukan oleh Dennis McQuail dan kawan-kawan dan mereka menemukan empat tipologi motivasi khalayak yang terangkum dalam skema media – persons Interactions sebagai berikut :
Diversion, yaitu melepaskan diri dari rutinitas dan masalah; sarana pelepasan emosi
Personal relationships, yaitu persahabatan; kegunaan sosial
Personal identity, yaitu referensi diri; eksplorasi realitas; penguatan nilai
Surveillance (bentuk-bentuk pencarian informasi) (McQuail, 2002 : 388).
Seperti yang telah kita diskusikan di atas, uses and gratifications merupakan suatu gagasan menarik, tetapi pendekatan ini tidak mampu melakukan eksplorasi terhadap berbagai hal secara lebih mendalam. Untuk itu mari sekarang kita mendiskusikan beberapa perluasan dari pendekatan yang dilakukan dengan teori uses and gratifications.

3. Teori Pengaruh Tradisi (The Effect Tradition)
Teori pengaruh komunikasi massa dalam perkembangannya telah mengalami perubahan yang kelihatan berliku-liku dalam abad ini. Dari awalnya, para peneliti percaya pada teori pengaruh komunikasi “peluru ajaib” (bullet theory) Individu-individu dipercaya sebagai dipengaruhi langsung dan secara besar oleh pesan media, karena media dianggap berkuasa dalam membentuk opini publik. Menurut model ini, jika Anda melihat iklan Close Up maka setelah menonton iklan Close Up maka Anda seharusnya mencoba Close Up saat menggosok gigi.
Kemudian pada tahun 50-an, ketika aliran hipotesis dua langkah (two step flow) menjadi populer, media pengaruh dianggap sebagai sesuatu yang memiliki pengaruh yang minimal. Misalnya iklan Close Up dipercaya tidak akan secara langsung mempengaruhi banyak orang-orang untuk mencobanya. Kemudian dalam 1960-an, berkembang wacana baru yang mendukung minimalnya pengaruh media massa, yaitu bahwa pengaruh media massa juga ditengahi oleh variabel lain. Suatu kekuatan dari iklan Close Up secara komersil atau tidak untuk mampu mempengaruhi khalayak agar mengkonsumsinya, tergantung pada variabel lain. Sehingga pada saat itu pengaruh media dianggap terbatas (limited-effects model).
Sekarang setelah riset di tahun 1970-an dan 1980-an, banyak ilmuwan komunikasi sudah kembali ke powerful-effects model, di mana media dianggap memiliki pengaruh yang kuat, terutama media televisi.Ahli komunikasi massa yang sangat mendukung keberadaan teori mengenai pengaruh kuat yang ditimbulkan oleh media massa adalah Noelle-Neumann melalui pandangannya mengenai gelombang kebisuan.

Komunikasi Organisasi

Komunikasi Organisasi adalah Komunikasi organisasi adalah pengiriman dan penerimaan berbagai pesan organisasi di dalam kelompok formal maupun informal dari suatu organisasi (Wiryanto, 2005). Komunikasi formal adalah komunikasi yang disetujui oleh organisasi itu sendiri dan sifatnya berorientasi kepentingan organisasi. Isinya berupa cara kerja di dalam organisasi, produktivitas, dan berbagai pekerjaan yang harus dilakukan dalam organisasi. Misalnya: memo, kebijakan, pernyataan, jumpa pers, dan surat-surat resmi. Adapun komunikasi informal adalah komunikasi yang disetujui secara sosial. Orientasinya bukan pada organisasi, tetapi lebih kepada anggotanya secara individual.

Teori-Teori Komunikasi Organisasi
1.Teori Hubungan Manusia ( Barnard Mayo, Roethlisherger dan Dichson)
Asumsi Dasar
Anggapan dasar teori ini adalah :
a.Rata-rata manusia tidaklah mempunyai pembawaan tidak suka bekerja. Tetapi bergantung pada kondisi yang dapat dikontrol.
b.Kontrol dari luar, ancaman dan hukuman tidaklah merupakan alat untuk membawa sesuatu kepada tujuan.
c.Komitmen terhadap tujuan adalah salah satu fungsi dari ganjaran yang dihubungkan dengna pencapaian mereka.
d.Rata-rata manusia belajar di bawah kondisi yang pantas, tidak hanya menerima tetapi juga mencari rasa tanggung jawab.
e.Kapasitas untuk melatih tingkat imajinasi yang relatif tinggi, cerdas, kreatif dalam pemecahan masalah organisasi didistribusikan secara luas dan tidak sempit kepada seluruh pekerja.
f.Di bawah kondisi kehidupan industri modern, potensi intelektual organisasi terletak pada kesatuan bagian-bagian.


Karakteristik
Teori ini menekankan pada pentingnya individu dan hubungan sosial dalam kehidupan berorganisasi. Teori ini menyarankan strategi peningkatan dan penyempurnaan organisasi dengan meningkatkan kepuasan anggota organisasi dan menciptakan organisasi yang dapat membantu individu mengembangkan potensinya.

Implementasi
Hubungan manusia di tempat kerja, hubungan manusia dalam sebuah perkumpulan dll.

2.Teori Sistem Sosial ( Talcoot Parsons)
Asumsi Dasar
Asumsi dasar dari teori ini adalah:
1.Organisasi sebagai suatu sistem sosial.
2.Teori sistem umum organisasi.
3.Keterbukaan relatif dari sistem.
4.Menekankan kepada integrasi fungsi.

Karakteristik
Teori sistem memandang organisasi sebagai kaitan bermacam-macam komponen yang saling tergantung satu sama lain dalam mencapai tujuan organisasi. Setiap bagian mempunyai peranan masing-masing dan berhubungan dengan bagian-bagian lain dan karena itu koordinasi penting dalam teori ini. Talcoot Parsons dengan pendekatan teori sistem sosial, mengatakan bahwa ketika sistem sosial itu dimulai dengan kekuatan nilai maka kekuatan nilai itulah yang membingkai semua aspek dari sistem itu, baik cara pengelolaan sumber daya materi dan non materi, pola relasi yang membangun komitmen, pola pencapaian tujuan dari sistem sosial agar sistem sosial tersebut bisa bertahan menghadapi tantangan baik dari dalam atau luar sistem tersebut.


Implementasi
Misalnya, suatu perusahaan akan berhasil jika orang-orang yang terlibat di dalam perusahaan tersebut berkoordinasi dalam pencapaian terbaik bagi perusahaan tersebut.

3.Teori Pengorganisasian ( Carl Weick)
Asumsi dasar
Proses pengorganisasiaan akan menghasilkan organisasi. Pengorganisasian adalah suatu gramatika (aturan, konvensi, praktik organisasi) yang disahkan secara mufakat untuk mengurangi ketidakpastian dengan menggunakan perilaku bijaksana (pengalaman) yang saling bertautan. (pengalaman dilalui bersama dengan orang lain melalui sistem lambang/simbol)

Karakteristik
Weick memandang pengorganisasian sebagai proses evolusioner yang bersandar pada sebuah rangkaian tiga proses:
penentuan (enachment)seleksi (selection) penyimpanan (retention)
Penentuan adalah pendefinisian situasi, atau mengumpulkan informasi yang tidak jelas dari luar. Ini merupakan perhatian pada rangsangan dan pengakuan bahwa ada ketidakjelasan. Seleksi, proses ini memungkinkan kelompok untuk menerima aspek-aspek tertentu dan menolak aspek-aspek lainnya dari informasi. Ini mempersempit bidang, dengan menghilangkan alternatif-alternatif yang tidak ingin dihadapi oleh organisasi. Proses ini akan menghilangkan lebih banyak ketidakjelasan dari informasi awal. Penyimpanan yaitu proses menyimpan aspek-aspek tertentu yang akan digunakan pada masa mendatang. Informasi yang dipertahankan diintegrasikan ke dalam kumpulan informasi yang sudah ada yang menjadi dasar bagi beroperasinya organisasinya.
Setelah dilakukan penyimpanan, para anggota organisasi menghadapi sebuah masalah pemilihan. Yaitu menjawab pertanyaan-pertanyaan berkenaan dengan kebijakan organisasi. Misal, ”haruskah kami mengambil tindakan berbeda dari apa yang telah kami lakukan sebelumnya?”
Sedemikian jauh, rangkuman ini mungkin membuat anda mempercayai bahwa organisasi bergerak dari proses pengorganisasian ke proses lain dengan cara yang sudah tertentu: penentuan; seleksi; penyimpanan; dan pemilihan. Bukan begitu halnya. Sub-subkelompok individual dalam organisasi terus menerus melakukan kegiatan di dalam proses-proses ini untuk menemukan aspek-aspek lainnya dari lingkungan. Meskipun segmen-segmen tertentu dari organisasi mungkin mengkhususkan pada satu atau lebih dari proses-proses organisasi, hampir semua orang terlibat dalam setiap bagian setiap saat. Pendek kata di dalam organisasi terdapat siklus perilaku.
Siklus perilaku adalah kumpulan-kumpulan perilaku yang saling bersambungan yang memungkinkan kelompok untuk mencapai pemahaman tentang pengertian-pengertian apa yang harus dimasukkan dan apa yang ditolak. Di dalam siklus perilaku, tindakan-tindakan anggota dikendalikan oleh aturan-aturan berkumpul yang memandu pilihan-pilihan rutinitas yang digunakan untuk menyelesaikan proses yang tengah dilaksanakan (penentuan, seleksi, atau penyimpanan).
Implementasi
Pembahasan tentang konsep-konsep dasar dari teori Weick, yaitu: lingkungan; ketidakjelasan; penentuan; seleksi; penyimpanan; masalah pemilihan; siklus perilaku; dan aturan-aturan berkumpul, yang semuanya memberi kontribusi pada pengurangan ketidakjelasan.

Komunikasi Kelompok

Komunikasi Kelompok adalah Komunikasi kelompok merupakan komunikasi yang berlangsung antara seorang komunikator dengan sekelompok orang yang jumlahnya lebih dari dua orang. Komunikasi kelompok terbagi atas kelompok kecil ataupun kelompok besar tergantung pada jumlah orang yang terlibat dan sejauh mana hubungan psikologisnya.

Teori-Teori Komunikasi Kelompok
1. Teori Psikodinamika dari Fungsi Kelompok
Teori Psikodinamika dari Fungsi Kelompok dikemukakan oleh Bion pada tahun 1948 1951. Sebelumnya Bion melakukan pengamatan dan partisipasinya dalam kelompok-kelompok terapi Teori Psikodinamika dari Fungsi Kelompok berawal dari teori neo-analisis. Teori neo-analisis lahir dari aliran-aliran neo-analisis yang bersumber pada teori Freud. Ada pula tokoh-tokoh lain yang mengembangkan teori tersebut, seperti Sullivan, Adler, Fromm, dan Hornay.

Asumsi Dasar dan Uraian Teori
Asumsi dasar dari teori psikodinamika dari fungsi kelompok, yaitu kelompok bukanlah sekedar kumpulan individu, melainkan merupakan suatu satuan dengan ciri dinamika dan emosi tersendiri. Kelompok-kelompok ini memiliki ciri, yaitu berfungsi pada taraf tidak sadar yang berdasarkan atas suatu kecemasan dan motivasi yang ada dalam diri manusia. Seperti yang diungkapkan oleh Sigmund Freud, dalam teori ini ada tiga kepribadian dalam suatu kelompok, yang terdiri atas :
a. Kebutuhan-kebutuhan dan motif-motif ,
b. Tujuan dan mekanisme (fungsi ego), dan
c. Keterbatasan-keterbatasan (fungsi super-ego).
Kelompok kerja juga dibicarakan dalam teori ini. Kelompok kerja merupakan suatu kelompok yang bertujuan untuk melaksanakan tugas. Ada sejumlah peraturan dan prosedur yang harus dilakukan. Bion cenderung menamakan kelompok kerja ini sebagai kelompok yang bertaraf tinggi (sophisticated).
Bion mengemukakan ada tiga asumsi dasar mengenai mekanisme kerja kelompok yang saling berkaitan, antara lain :
- Asumsi ketergantungan,
- Asumsi pasangan, dan
- Asumsi melawan-lari

2. Teori Sintalitas Kelompok (Group Syntality Theory)
Teori Sintalitas Kelompok merupakan perwujudan dari proses komunikasi dari suatu kelompok. Teori ini dikembangkan oleh Cattell pada tahun 1948. Cattell berpendapat bahwa untuk dapat membuat perkiraan-perkiraan ilmiah yang tepat, segala sesuatu harus dapat diuraikan, diukur, dan diklasifikasikan dengan tepat dan cermat. Dalam teori sintalitas ini, Cattell menjelaskan bahwa dalam suatu kelompok haruslah memiliki kepribadian yang dapat dipelajari. Dengan alasan ini, Cattell dengan teorinya dikatakan sebagai pengembang Psikologi yang dinamakan Psikologi Kepribadian Kelompok.

Asumsi Dasar dan Uraian Teori
Asumsi dasar dari teori ini merupakan asal kata dari sintalitas (syntality) yang digunakan oleh Cattell untuk menunjukkan “kepribadian kelompok” yang mencankup kebersamaan, dinamika, temperamen, dan kemampuan kelompok. Dasar-dasar pendapat yang dikemukakan oleh Cattell dipengaruhi oleh pandangan McDougall (1920) tentang kelompok, yaitu :
- Perilaku dan struktur yang khas dari suatu kelompok akan tetap ada walaupun anggota-anggotanya berganti.
- Pengalaman-pengalaman kelompok direkam dalam ingatan.
- Kelompok menunjukkan adanya dorongan-dorongan.
- Kelompok mampu berespons secara keseluruhan terhadap suatu rangsang yang tertuju pada salah satu bagiannya.
- Kelompok menunjukkan emosi yang bervariasi.
- Kelompok menunjukkan adanya pertimbangan-pertimbangan kolektif (bersama).
Cattell mengemukakan setidaknya membutuhkan tiga panel dalam suatu kelompok, yang terdiri atas : sifat-sifat sintalitas yaitu pengaruh dari adanya kelompok sebagai keseluruhan, baik terhadap kelompok lain maupun terhadap lingkungan; sifat-sifat struktur kelompok yaitu hubungan yang tercipta antara anggota kelompok, perilaku-perilaku di dalam kelompok, dan pola organisasi kelompok; dan sifat-sifat populasi yaitu sifat rata-rata dari anggota-anggota kelompok. Hubungan dari ketiga panel ini adalah saling ketergantungan. Selain dari tiga panel yang telah diuraikan tersebut, Cattell juga menyatakan adanya dua aspek penting pada kelompok, yaitu : eksistensi kelompok tergantung pada kebutuhan individu anggotanya dan kelompok-kelompok biasanya saling tumpang tindih.

3. Teori Prestasi Kelompok (Theoryof Group Achievement)
Teori Prestasi kelompok dikemukakan oleh Stogdill pada tahun 1959. Stogdill menganggap bahwa teori-teori tentang kelompok pada umumnya didasarkan pada konsep tentang interaksi yang memiliki kelemahan teoritis tertentu. Maka dari itu, Stogdill mengajukan teori prestasi kelompok. Teori yang dikemukakan oleh Stogdill ini, menyertakan masukan (input), variabel media, dan prestasi (output) dari suatu kelompok. Teori ini merupakan hasil pengembangan dari teori-teori sebelumnya yang tergolong dalam tiga orientasi yang berbeda, seperti : orientasi penguat (teori-teori belajar), orientasi lapangan (teori-teori tentang interaksi), dan orientasi kognitif (teori-teori tentang harapan).
Asumsi Dasar dan Uraian Teori
Asumsi dasar dari teori ini adalah proses terjadinya dalam kelompok dimana dimuiai dari masukan ke keluaran melalui variabel-variabel media. Dalam teori ini akan terdapat umpan balik (feed-back). Berikut ini adalah penjabaran teori prestasi yang terbagi atas beberapa faktor yang mempengaruhi suatu kelompok, yaitu :
a.Masukan dari anggota Masukan dari anggota merupakan sumber input.
Menurut Stogdill, kelompok adalah suatu sistem interaksi yang terbuka. Struktur dan kelangsungan sistem sangat bergantung pada tindakan-tindakan anggota dan hubungan antara anggota. Ada tiga elemen penting yang termasuk dalam masukan anggota, yaitu : interaksi sosial (menyatakan suatu hubungan yang dilakukan oleh dua orang atau lebih, interaksi ini terdiri atas aksi dan reaksi antara anggota-anggota kelompok yang berinteraksi); hasil perbuatan (bagian dari suatu interaksi yang dapat diaplikasikan dalam bentuk kerja sama, berencana, menilai, berkomunikasi, membuat kepetusan); dan harapan (kesediaan untuk mendapatkan suatu penguat, fungsi dari harapan ini adalah sebagai dorongan (drive), perkiraan tentang menyenangkan atau tidaknya dasil, dan perkiraan tentang kemungkinan hasil itu akan benar-benar terjadi).
b. Variabel media
Variabel media menjelaskan mengenai beroperasi dan berfungsinya suatu kelompok. Elemen-elemen yang ada di dalamnya, yaitu : struktur formal (struktur formal mencakup fungsi dan status dimana kelompok terdiri atas individu-individu yang masing-masingmembawa harapan dan perbuatannya sendiri) dan struktur peran (struktur peran mencakup tanggung jawab dan otoritas dimana individu yang menduduki posisi tertentu hampir tidak berpengaruh pada status dan fungsi posisi tersebut).
c. Prestasi kelompok
Prestasi kelompok merupakan output atau tujuan dari kelompok. Ada tiga unsur yang menentukan prestasi kelompok, yaitu : produktivitas (derajat perubahan harapan tentang nilai-nilai yang dihasilkan oleh perilaku kelompok), moral (derajat kebebasan dari hambatan-hambatan dalam kerja kelompok menuju tujuannya), dan kesatuan (tingkat kemampuan kelompok untuk mempertahankan struktur dan mekanisme operasinya dalam kondisi yang penuh tekanan (stress).

Komunikasi Interpersonal

Komunikasi Interpersonal adalah kegiatan komunikasi yang dilakukan secara langsung antara seseorang dengan orang lainnya.Misalnya percakapan tatap muka, korespondensi, percakapan melalui telepon, dll.

Teori-Teori Komunikasi Interpersonal
1) Teori Pertukaran Sosial: (George Caspar Homans, 1958)
Teori ini memprediksi, menjelaskan kapan dan mengapa orang mengungkapkan informasi tertentu mengenai diri mereka sendiri untuk orang lain. Teori Pertukaran Sosial berpendapat kekuatan utama dalam hubungan interpersonal adalah kepuasan kepentingan diri kedua orang. Teoretisi mengatakan kepentingan diri sendiri belum tentu hal yang buruk dan yang benar-benar dapat meningkatkan hubungan (Thomas, 1958).
Menurut teori interaksi, manusia adalah seperti sebuah transaksi ekonomi, karena Anda berusaha untuk memaksimalkan manfaat dan meminimalkan biaya. Anda akan mengungkapkan informasi tentang diri Anda ketika rasio biaya-manfaat yang dapat diterima untuk Anda. Selama imbalan lebih besar daripada biaya terus beberapa akan menjadi semakin intim dengan berbagi lebih banyak informasi pribadi. Konstruk teori ini termasuk discloser, harapan relasional, dan manfaat yang dirasakan atau biaya dalam hubungan tersebut. (Foss & Littlejohn, 2008).

Asumsi yang mendasari termasuk bahwa manusia menimbang manfaat versus biaya ketika mengembangkan hubungan. kondisi batas tersebut untuk teori ini adalah bahwa sedikitnya dua orang harus memiliki beberapa jenis interaksi.
Teori Pertukaran Sosial dapat digunakan untuk mempelajari interaksi di seluruh spektrum yang luas dari hubungan romantis untuk hubungan kerja dalam organisasi. Pertama dijelaskan oleh Homans pada tahun 1958, tetap merupakan teori yang relevan yang terus menghasilkan penelitian baru. Salah satu kelemahan teori ini adalah bahwa ia melihat interaksi manusia hanya sebagai proses rasional, berfokus pada formula ekonomi. Para kritikus berpendapat bahwa karena Efek Sosial berfokus pada hadiah untuk biaya keseimbangan itu tidak menjelaskan alasan lain di belakang bursa tertentu. Beberapa juga tantangan apakah manusia benar-benar mengambil waktu untuk berpikir tentang imbalan dan biaya saat memiliki dan pertukaran atau membentuk hubungan (Turner & Barat, 2007).

2)Teori Pengurangan Ketidakpastian (Charles Berger & Richard Calabrese 1975)
Teori Pengurangan Ketidakpastian berasal dari perspektif sosiopsikologi. Definisi dari teori ini adalah proses dasar bagaimana kita mendapatkan pengetahuan tentang orang lain. Menurut teori orang mengalami kesulitan dengan ketidakpastian, mereka ingin bisa memprediksi perilaku dan oleh karena itu mereka termotivasi untuk mencari informasi lebih lanjut tentang orang (Berger & Calabrese, 1975).
Teori ini berpendapat bahwa melalui langkah-langkah tertentu dan pos-pos pemeriksaan untuk mengurangi ketidakpastian tentang satu sama lain dan membentuk sebuah gagasan tentang apakah orang suka atau tidak suka yang lain. Ketika kita berkomunikasi kita membuat rencana untuk mencapai tujuan kita. Pada saat-saat yang sangat tidak pasti kita menjadi lebih waspada dan lebih mengandalkan data yang tersedia dalam situasi tersebut. Ketika kita kurang yakin kami kehilangan kepercayaan dalam rencana kita sendiri dan membuat rencana contingency. Teori ini juga mengatakan bahwa tingkat ketidakpastian yang lebih tinggi membuat jarak antara manusia dan bahwa ekspresi non-verbal cenderung untuk membantu mengurangi ketidakpastian (Foss & Littlejohn, 2008).
Konstruksi termasuk tingkat ketidakpastian, sifat hubungan dan cara-cara untuk mengurangi ketidakpastian. asumsi mendasari termasuk bahwa seorang individu kognitif akan memproses adanya ketidakpastian dan mengambil langkah untuk mengurangi hal itukondisi batas tersebut untuk teori ini adalah bahwa harus ada semacam situasi sosial di luar dan internal memicu proses kognitif.
Menurut teori tsb kita mengurangi ketidakpastian dalam tiga cara:
1. Strategi pasif : mengamati orang itu.
2.Strategi aktif : meminta orang lain tentang orang atau mendongak info.
3.Interaaktif : mengajukan pertanyaan, keterbukaan diri.

Teori Pengurangan Ketidakpastian memprediksi dan menjelaskan elemen-elemen dari interaksi awal antara orang-orang dengan cara yang tidak ada teori lain tidak. Hal itu telah digunakan untuk mempelajari komunikasi dalam berbagai situasi dari kelompok kecil untuk komunikasi massa. Beberapa kritik yang mengatakan dasar teori cacat. Michael Sunnafrank (1986) berpendapat bahwa memaksimalkan hasil relasional, tidak mengurangi ketidakpastian, merupakan perhatian utama individu dalam sebuah pertemuan awal (Turner & Barat, 2007).

3)Interaksi Simbolis (George Herbert Mead, 1934)
Interaksi simbolik berasal dari perspektif sosial budaya dalam hal itu bergantung pada penciptaan berbagi makna melalui interaksi dengan orang lain. Teori ini berfokus pada cara di mana orang-orang membentuk makna dan struktur dalam masyarakat melalui interaksi. Orang-orang termotivasi untuk bertindak berdasarkan makna mereka berikan kepada orang-orang, benda, dan peristiwa (Mead, 1934).
Interaksi simbolik berpendapat dunia terdiri dari objek sosial yang dinamai dan memiliki makna sosial ditentukan. Ketika orang-orang berinteraksi dari waktu ke waktu mereka datang untuk berbagi makna bagi istilah-istilah tertentu dan tindakan dan dengan demikian datang untuk memahami peristiwa dalam cara-cara tertentu. Ada tiga konsep utama dalam teori ini: masyarakat, diri dan pikiran.
Masyarakat: Kisah Sosial (yang menciptakan makna) melibatkan isyarat awal dari satu individu, respon terhadap yang lain dan isyarat dari hasilnya.
Diri: Gambar diri berasal dari interaksi dengan orang lain berdasarkan persepsi orang lain. Seseorang mendefinisikan "diri" mereka melalui interaksi sosial.
Pikiran: Kemampuan Anda untuk menggunakan simbol-simbol yang signifikan untuk merespon diri sendiri membuat berpikir mungkin. Anda mendefinisikan objek dalam hal bagaimana Anda dapat bereaksi terhadap mereka. Objek menjadi apa yang mereka melalui proses mengurus simbolis kami (Foss & Littlejohn, 2008).
Konstruksi untuk teori ini termasuk penciptaan makna, norma-norma sosial, interaksi manusia, dan tanda-tanda dan simbol. Sebuah asumsi yang mendasari teori ini adalah bahwa makna dan realitas sosial yang dibentuk dari interaksi dengan orang lain dan bahwa beberapa jenis makna bersama tercapai. kondisi batas tersebut untuk teori ini harus ada orang banyak berkomunikasi dan berinteraksi dan dengan demikian berarti menetapkan situasi atau objek.
Interaksi simbolik mengidentifikasi dan mempertimbangkan pikiran individu tentang bagaimana mereka masuk ke dalam masyarakat dan interaksi sosial mereka dalam mengembangkan citra diri. Hal ini dapat membantu kita memahami bagaimana makna dibuat, yang dapat menerjemahkan ke dalam studi banyak teori komunikasi lainnya. Beberapa kritik yang mengatakan teori ini terlalu luas dan karena itu sulit untuk diterapkan dalam studi khusus. Yang lainnya berpendapat bahwa teori ini terlalu banyak berfokus pada kekuatan individu untuk menciptakan realitas mereka sendiri dan tidak cukup pada kekuatan lain yang membantu membangun kenyataan itu. (Turner & West, 2007).

Komunikasi Intrapersonal


1. Komunikasi Intrapersonal
proses komunikasi yang terjadi dalam diri seseorang, berupa pengolahan informasi melalui pancaindra dan sistem syaraf. Contoh : berpikir, merenung, menggambar, menulis sesuatu, dll.


Komunikasi intrapribadi atau Komunikasi intrapersonal adalah penggunaan bahasa atau pikiran yang terjadi di dalam diri komunikator sendiri. Komunikasi intrapersonal merupakan keterlibatan internal secara aktif dari individu dalam pemrosesan simbolik dari pesan-pesan. Seorang individu menjadi pengirim sekaligus penerima pesan, memberikan umpan balik bagi dirinya sendiri dalam proses internal yang berkelanjutan. Komunikasi intrapersonal dapat menjadi pemicu bentuk komunikasi yang lainnya. Pengetahuan mengenai diri pribadi melalui proses-proses psikologis seperti persepsi dan kesadaran (awareness) terjadi saat berlangsungnya komunikasi intrapribadi oleh komunikator. Untuk memahami apa yang terjadi ketika orang saling berkomunikasi, maka seseorang perlu untuk mengenal diri mereka sendiri dan orang lain. Karena pemahaman ini diperoleh melalui proses persepsi. Maka pada dasarnya letak persepsi adalah pada orang yang mempersepsikan, bukan pada suatu ungkapan ataupun objek.

Aktivitas dari komunikasi intrapribadi yang kita lakukan sehari-hari dalam upaya memahami diri pribadi diantaranya adalah; berdo'a, bersyukur, instrospeksi diri dengan meninjau perbuatan kita dan reaksi hati nurani kita, mendayagunakan kehendak bebas, dan berimajinasi secara kreatif.

Pemahaman diri pribadi ini berkembang sejalan dengan perubahan perubahan yang terjadi dalam hidup kita. Kita tidak terlahir dengan pemahaman akan siapa diri kita, tetapi prilaku kita selama ini memainkan peranan penting bagaimana kita membangun pemahaman diri pribadi ini.

Kesadaran pribadi (self awareness) memiliki beberapa elemen yang mengacu pada identitas spesifik dari individu (Fisher 1987:134). Elemen dari kesadaran diri adalah konsep diri, proses menghargai diri sendiri (self esteem), dan identitas diri kita yang berbeda beda (multiple selves).

Elemen-elemen konsep diri
Konsep diri
Konsep diri adalah bagaimana kita memandang diri kita sendiri, biasanya hal ini kita lakukan dengan penggolongan karakteristik sifat pribadi, karakteristik sifat sosial, dan peran sosial.

Karakteristik pribadi adalah sifat-sifat yang kita miliki, paling tidak dalam persepsi kita mengenai diri kita sendiri. Karakteristik ini dapat bersifat fisik (laki-laiki, perempuan, tinggi, rendah, cantik, tampan, gemuk, dsb) atau dapat juga mengacu pada kemampuan tertentu (pandai, pendiam, cakap, dungu, terpelajar, dsb.) konsep diri sangat erat kaitannya dengan pengetahuan. Apabila pengetahuan seseorang itu baik/tinggi maka, konsep diri seseorang itu baik pula. Sebaliknya apabila pengetahuan seseorang itu rendah maka, konsep diri seseorang itu tidak baik pula.

Karakteristik sosial
Karakteristik sosial adalah sifat-sifat yang kita tamplikan dalam hubungan kita dengan orang lain (ramah atau ketus, ekstrovert atau introvert, banyak bicara atau pendiam, penuh perhatian atau tidak pedulian, dsb). Hal hal ini mempengaruhi peran sosial kita, yaitu segala sesuatu yang mencakup hubungan dengan orang lain dan dalam masyarakat tertentu.


Peran sosial

Ketika peran sosial merupakan bagian dari konsep diri, maka kita mendefinisikan hubungan sosial kita dengan orang lain, seperti: ayah, istri, atau guru. Peran sosial ini juga dapat terkait dengan budaya, etnik, atau agama. Meskipun pembahasan kita mengenai 'diri' sejauh ini mengacu pada diri sebagai identitas tunggal, namun sebenarnya masing-masing dari kita memiliki berbagai identitas diri yang berbeda (mutiple selves).

Identitas diri yang berbeda
Identitas berbeda atatu multiple selves adalah seseorang kala ia melakukan berbagai aktivitas, kepentingan, dan hubungan sosial. Ketika kita terlibat dalam komunikasi antar pribadi, kita memiliki dua diri dalam konsep diri kita.
• Pertama persepsi mengenai diri kita, dan persepsi kita tentang persepsi orang lain terhadap kita (meta persepsi).

• Identitas berbeda juga bisa dilihat kala kita memandang 'diri ideal' kita, yaitu saat bagian kala konsep diri memperlihatkan siapa diri kita 'sebenarnya' dan bagian lain memperlihatkan kita ingin 'menjadi apa' (idealisasi diri)
Contohnya saat orang gemuk berusaha untuk menjadi langsing untuk mencapai gambaran tentang dirinya yang ia idealkan.

Proses pengembangan kesadaran diri
Proses pengembangan kesadaran diri ini diperoleh melalui tiga cara, yaitu;
• Cermin diri (reflective self) terjadi saat kita menjadi subyek dan obyek diwaktu yang bersamaan, sebagai contoh orang yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi biasanya lebih mandiri.

• Pribadi sosial (social self) adalah saat kita menggunakan orang lain sebagai kriteria untuk menilai konsep diri kita, hal ini terjadi saat kita berinteraksi. Dalam interaksi, reakasi orang lain merupakan informasi mengenai diri kita, dan kemudian kita menggunakan informasi tersebut untuk menyimpulkan, mengartikan, dan mengevaluasi konsep diri kita. Menurut pakar psikologi Jane Piaglet, konstruksi pribadi sosial terjadi saat seseorang beraktivitas pada lingkungannya dan menyadari apa yang bisa dan apa yang tidak bisa ia lakukan.
Contoh: Seseorang yang optimis tidak melihat kekalahan sebagai salahnya, bila ia mengalami kekalahan, ia akan berpikir bahwa ia mengalami nasib sial saja saat itu, atau kekalahan itu adalah kesalahan orang lain. Sementara seseorang yang pesimis akan melihat sebuah kekalahan itu sebagai salahnya, menyalahkan diri sendiri dalam waktu yang lama dan akan mempengaruhi apapun yang mereka lakukan selanjutnya, karena itulah seseorang yang pesimis akan menyerah lebih mudah.

• Perwujudan diri (becoming self). Dalam perwujudan diri (becoming self) perubahan konsep diri tidak terjadi secara mendadak atau drastis, melainkan terjadi tahap demi tahap melalui aktivitas serhari hari kita. Walaupun hidup kita senantiasa mengalami perubahan, tetapi begitu konsep diri kita terbentuk, teori akan siapa kita akan menjadi lebih stabil dan sulit untuk dirubah secara drastis.
Contoh, bila kita mencoba merubah pendapat orang tua kita dengan memberi tahu bahwa penilaian mereka itu harus dirubah - biasanya ini merupakan usaha yang sulit. Pendapat pribadi kita akan 'siapa saya' tumbuh menjadi lebih kuat dan lebih sulit untuk diubah sejalan dengan waktu dengan anggapan bertambahnya umur maka bertambah bijak pula kita.Konsep diri adalah bagaimana kita memandang diri kita sendiri, biasanya hal ini kita lakukan dengan penggolongan karakteristik sifat pribadi, karakteristik sifat sosial, dan peran sosial.